Jumat, 13 April 2012

Suatu siang di jl. K.H A.Halim

oleh Mala Hayati Rahmah pada 19 Juni 2011 pukul 18:07 ·
Aq menatap sekelilingku..
Entah berapa galon keringat yg akan tertampung dari orang-orang yg ada di dalam angkutan ini.. Sangat panas.. Panas hingga pipi-pipi mulai merona kemerahan.. Panas, hingga kurasakan bajuku basah oleh keringat yang kemudian tembus ke jilbab putihku..
Pedagang asongan mulai menyerbu kami dg tumpukan dagangannya, berteriak-teriak merayu agar dagangannya dibeli. Cuaca yg begitu panas menjadi pendukung setia rayuan mereka, dan benar saja.. Satu dua orang mulai tergoda untuk membeli apa yg para pedagang itu tawarkan. Anehmya, tak ada yg keberatan dg tawaran harga yg 2 kali lipat lebih mahal dari harga biasa.
Tentu saja, di satu sisi, pedagang asongan ini diuntungkan dg kondisi seperti ini. Jalan yg hanya dibuka 1 jalur memungkinkan terjadinya macet yg luar biasa panjang. Pemberlakuan buka tutup jalan tiap 15 menit membuat sebagian kendaraan harus rela berlama-lama membetahkan diri dalam gersangnya Jl. K. H. A. Halim ditengah teriknya matahari pukul 2 siang.
Sementara di sisi lain, para supir angkutan akan mengeluh karena jatah bensin yg seharusnya cukup untuk menempuh 3 km harus ikhlas mereka habiskan ditengah kemacetan berkepanjangan ini. Upaya saling serobot untuk mendapat antrian paling depan tampaknya menjadi sebuah ungkapan kegeraman atas apa yg mereka rasakan. Begitupun dg para penumpang, mereka harus merelakan perjalan ini menguras sebagian waktu mereka. Kemacetan ini memaksa penumpang untuk menghadiri acara hari ini dg sebuah keterlambatan. Pun aku, harus ikhlas membiarkan kepulanganku ditahan kemacetan ini, memungkinkan pertemuanku dg ayah bundaku ditunda lebih lama lagi.
Tangisan 6 oktaf anak-anak yg kepanasan segera mendominasi lengkingan suara pengamen jalanan yg mengais rezeki demi 1 atw 2 keping receh.. Rayuan gombal para pedagang asongan berebutan dg jerit klakson yg saling bersahutan memekakkan telinga. Umpatan para supir dan keluhan para penumpang seolah menjadi backsound yg melatari cuplikan adegan hari ini. Menjadi ritme yg menemaniku pulang menuju kediamanku tercinta.
Perlahan,mobil mulai merayap saat polantas membuka jalur untuk arah kami. Semua berlomba-lomba mendahului. semua  ingan cepat melewati jembatan yg menjadi sumber kemacetan di depan...
Aku mendesah pelan. Ah, inilah Majalengka..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar