Jumat, 13 April 2012

penantian embun

oleh Mala Hayati Rahmah pada 9 April 2011 pukul 0:24 ·

Malam bersenandung sepi..
dinginnya memeluk setiap kata yang berselimut malu dalam kelunya lidah
terlintas tanya dalam merenungi jejak-jejak langkah kehidupan
merindui masa dalam kelambu silam
ingin bersegera, tapi tak bisa..

harapan itu tetap menyala..
tapi fajar tak juga terbit..

hanya embun senantiasa menunggu diujung malam
berharap mentari kan segera datang menjemput..

Suatu siang di jl. K.H A.Halim

oleh Mala Hayati Rahmah pada 19 Juni 2011 pukul 18:07 ·
Aq menatap sekelilingku..
Entah berapa galon keringat yg akan tertampung dari orang-orang yg ada di dalam angkutan ini.. Sangat panas.. Panas hingga pipi-pipi mulai merona kemerahan.. Panas, hingga kurasakan bajuku basah oleh keringat yang kemudian tembus ke jilbab putihku..
Pedagang asongan mulai menyerbu kami dg tumpukan dagangannya, berteriak-teriak merayu agar dagangannya dibeli. Cuaca yg begitu panas menjadi pendukung setia rayuan mereka, dan benar saja.. Satu dua orang mulai tergoda untuk membeli apa yg para pedagang itu tawarkan. Anehmya, tak ada yg keberatan dg tawaran harga yg 2 kali lipat lebih mahal dari harga biasa.
Tentu saja, di satu sisi, pedagang asongan ini diuntungkan dg kondisi seperti ini. Jalan yg hanya dibuka 1 jalur memungkinkan terjadinya macet yg luar biasa panjang. Pemberlakuan buka tutup jalan tiap 15 menit membuat sebagian kendaraan harus rela berlama-lama membetahkan diri dalam gersangnya Jl. K. H. A. Halim ditengah teriknya matahari pukul 2 siang.
Sementara di sisi lain, para supir angkutan akan mengeluh karena jatah bensin yg seharusnya cukup untuk menempuh 3 km harus ikhlas mereka habiskan ditengah kemacetan berkepanjangan ini. Upaya saling serobot untuk mendapat antrian paling depan tampaknya menjadi sebuah ungkapan kegeraman atas apa yg mereka rasakan. Begitupun dg para penumpang, mereka harus merelakan perjalan ini menguras sebagian waktu mereka. Kemacetan ini memaksa penumpang untuk menghadiri acara hari ini dg sebuah keterlambatan. Pun aku, harus ikhlas membiarkan kepulanganku ditahan kemacetan ini, memungkinkan pertemuanku dg ayah bundaku ditunda lebih lama lagi.
Tangisan 6 oktaf anak-anak yg kepanasan segera mendominasi lengkingan suara pengamen jalanan yg mengais rezeki demi 1 atw 2 keping receh.. Rayuan gombal para pedagang asongan berebutan dg jerit klakson yg saling bersahutan memekakkan telinga. Umpatan para supir dan keluhan para penumpang seolah menjadi backsound yg melatari cuplikan adegan hari ini. Menjadi ritme yg menemaniku pulang menuju kediamanku tercinta.
Perlahan,mobil mulai merayap saat polantas membuka jalur untuk arah kami. Semua berlomba-lomba mendahului. semua  ingan cepat melewati jembatan yg menjadi sumber kemacetan di depan...
Aku mendesah pelan. Ah, inilah Majalengka..

Catatan tentangnya..

oleh Mala Hayati Rahmah pada 24 Juni 2011 pukul 21:47 ·
TV ukuran 32 inch itu dpelototi sepasang mata hitam bulat nan bening. Asyik sekali kelihatannya. Acara yg tersaji di TV nampak menarik semua perhatiannya hingga tak dhiraukannya bocah kecil disampingnya yg tengah asyik main mobil-mobilan. Malam itu sungguh dingin. Tiupan angin menusuk-nusuk kulit. Persis malam ini, malam di musim angin kencang. Tatapanku tak beranjak dari sosok 100 cm yg bergelung di atas kasur tipis di depan TV. Celana piyamanya yg sebatas lutut seolah cukup membentengi hawa dingin yg menusuk setiap senti kulit. 'no problemo...' mugkin begitu alasannya jika aku tanya mengapa ia tak memakai piyama panjangnya.
Matanya brsinar nyalang, bulat dan besar. Gigi serinya yg baru tumbuh karena sempat tanggal tampak seperti gigi kelinci. Berbaris rapi dan menyembul malu diantara deretan gigi sulungnya. Kulitnya yg putih, ia warisi dari ayah ibunya. Lembut.. karena sisa-sisa kulit bayi mugkin masih ia miliki. Satu hal yg aku luput darinya selama ini, dan baru kusadari kini: kecerdasannya.
Kugigit lembut potongan terakhir brownies coklat yg sedari td aku makan sambil memperhatiknnya. Si bocah kecil _adiknya_ yg sedang golden age itu berceracau memamerkan kepiawaianny dalam menggumamkan kata-kata yg belum jelas. Menunjukkan kecerewetannya sebagai suatu kemahiran, dan hobi.
Derak angin di luar menggerakkan dahan-dahan pohon akasia di samping rumah. Rantingnya melambai-lambai sesekali berusaha menciumi atap rumah yg terbuat dari asbes. Berisik seperti suara tikus berlarian di para-para.
Aku tersenyum. Mencoba menghadirkan kembali malam itu di pelupuk mata. Membayangkan hari-hari bersama keduanya. Si cerdas Muthiya dan si cerewet Rifat. Hari-hari kedepan adalah hari-hari tanpa mereka. Tentunya akna kurindukan masa-masa yg telah kulalui bersama mereka. Mungkin yg bisa kulakukan hanyalah merindui mereka dalam diam, seperti biasa...

Dedicated 4 jundi-jundi kecil penghias hariku selama kuliah.. Love u sayang..
from teh May kalian..

Kita, dan anak-anak kita

oleh Mala Hayati Rahmah pada 6 Oktober 2011 pukul 19:14 ·
Kaget saat seorang anak kecil _usia sktr 7 tahun_ 'menodong'ku di sebuah mesjid di sekitar kampus. Dengan polosnya dia meminta _sedikit memaksa lebih tepatnya_ agar aku memberikannya uang . Herannya, anak itu berpakaian 'rapi' layaknya orang berada. Aku pun meninggalkan mesjid dengan tanda tanya memenuhi kepalaku. Miris.

Mau jadi apa bangsa kita nanti jika mental calon-calon pemimpinnya sudah terkorupsi begini?? Ingin mendapatkan apa yang di inginkan tanpa mau bersusah payah kerja keras. Inilah dia: mental pengemis! Tentu lingkungannyalah yang membntuk ia menjadi seperti itu. Keluarga, sebagai pranata sosial pertama yang memiliki andil paling besar dalam hal ini, tentunya sangat berpengaruh dlm membentuk karakter dan kepribadian seorang anak.
Bukan bermaksud menyalahkan ke satu pihak,bukan juga bermaksud untuk menyuruh anak-anak kita bekerja. Yang menjadi titik fokusnya adalah, bahwa pengalaman tadi mengingatkan kita barangkali kitapun termsuk ke dalam anggota keluarga yg tidak peka dg kondisi anak-anak kita, adik-adik kita, keponakan-keponakan kita, atau anak-anak kecil di lingkungan tempat tinggal kita...
Padahal mereka adalah aset bangsa yg perlu kita didik. Generasi penerus yg akan memimpin negeri ini nanti.. Baik buruknya suatu bangsa ke depan tentunya ditentukan dg kualitas generasi mudanya saat ini.

Mungkin kita terlalu asyik dg diri kita sendiri, dg dunia kita sendiri. Tanpa memedulikan bahwa di sekitar kita, anak-anak kita berteriak-teriak karena mentalnya digerus oleh gaya hidup yg semakin menggila. Digerus oleh kebobrokan moral yg mulai mendunia.
Jika sudah begitu, anak-anak kita bukanlah anak-anak kita lagi. Ia akan menjadi seorang yg asing dg dirinya sendiri. Ia adalah produk didikan paham-paham hedon. Lebih diperkecil lagi: ia adalah produk dari ketidakpedulian kita. Mengingat hal ini, sangatlah miris, karena tentulah kita pun akan diminta pertanggungjawaban atas ketidakpedulian itu... Astagfirullah..
"dan hendaklah takut (kpd Alloh) orang-orang yg sekiranya mereka meninggalkan keturunan yg lemah di belakang mereka yg mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Alloh, dan hendaklah mereka berbicara dg tutur kata yg benar" [Q.S AnNisa:9]
Allahua'lam